Selasa, 21 Mei 2019

India Kaji Bea Masuk Besi & Baja, Kemendag Yakin Indonesia Tak Kena Permasalahan

Tingginya import dan penurunan harga besi serta baja di India, membuat pemerintah India dipaksa untuk mengaplikasikan bea masuk atas komoditas itu.

Tekanan itu hadir dari perusahaan besi serta baja India yang menuding beberapa negara seperti Jepang, China serta Korea Selatan lakukan praktik dumping.

Bahkan juga Jindal Stainless, produsen baja nirkarat paling besar di India, minta supaya kesepakatan perdagangan bebas dengan beberapa negara Jepang, Korea Selatan, serta Asia Tenggara untuk dilihat lagi.

Berkaitan hal itu, Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan menjelaskan, intimidasi buat Indonesia belum begitu terlihat.

Karena, Nurwan meyakini, pemerintah India akan patuhi semua ketetapan yang sudah tertera dalam kesepakatan dagang ASEAN-India Free Trade Ruang (AIFTA).

Baca : kolom praktis

"Jika India memakai pola penambahan Bea Masuk karena itu tidak ada pengaruhnya pada Indonesia sebab terikat kesepakatan AIFTA, hingga BM nya masih 0," katanya waktu dihubungi Tirto, Senin (11/2/2019).

Usaha pemeriksaan lagi AIFTA susah dikerjakan walau ada tekanan dari beberapa entrepreneur besi serta baja di negeri Bollywood. Karena, India kemungkinan tidak akan ingin ambil risiko digiring ke World Trade Organization (WTO) oleh beberapa negara ASEAN.

"Cara barusan (mengevaluasi lagi) tidak wajar dalam membuat FTA," kata Nurwan memberikan tambahan. Simak juga: Banjir Baja Import dari Cina Membuat Entrepreneur Lokal Rugi Ditambah lagi, tekanan supaya kerja sama itu dilihat lagi bukan kesempatan ini saja berlangsung.

Permasalahan import produk besi serta baja jadi aduan entrepreneur India karena angkanya alami lonjakan lumayan besar. Seperti diadukan Reuters, data pemerintah India tunjukkan jika import komoditas itu bertambah 8 % (yoy) pada periode April-Desember 2018.

Untuk periode April-September 2018, import dari Korea Selatan naik 29 % dibanding tahun awalnya, sesaat import Jepang bertambah 35 %, serta import dari Indonesia melejit sebesar 106 %.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar